Minggu, 06 April 2014

Worship Matters (Ringkasan #3)

(lanjutan...)

Bab 4: Tanganku. Apa yang kulatih?
Tentu Tuhan dapat saja bekerja melalui kita meski kita melakukan kesalahan, tidak kompeten, dan kurang latihan. Tetapi Ia menghargai kecakapan. Kecakapan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik. Ketika Daud mencari seorang Lewi untuk dijadikan pemimpin nyanyian, ia memilih Kenanya sebab ia ‘paham dalam hal itu’ (1 Taw 15:22). Atas ilham Roh Kudus, Daud menulis bahwa para pemain musik harus ‘memetik kecapi dengan baik-baik’ (Maz 33:3). Sebagai raja atas rakyatnya, Daud sendiri ‘menuntun mereka dengan kecakapan tangannya’ (Maz 78:72). Dalam perjanjian baru, Paulus menyebut dirinya ‘ahli bangunan yang cakap’ (1 Kor 3:10). Tuhan memandang penting keahlian. Demikian pula seharusnya kita.
Lima hal penting yang perlu diingat mengenai kecakapan:
a.        Kecakapan adalah pemberian Allah, bagi kemuliaannya.
Tiada seorang pun dari kita yang dapat memuji diri atas kebolehan kita. C. J. Mahaney berkata, “setiap bakat dari Tuhan ditujukan untuk mengarahkan perhatian kita kepada-Nya dan menyegarkan kasih kita kepada-Nya.”
b.        Kecakapan harus dikembangkan.
Kita membaca dalam 1 Tawarikh 25:7 bahwa pemusik yang melayani di Kemah Pertemuan adalah mereka yang telah ‘dilatih bernyanyi untuk TUHAN – mereka sekalian adalah ahli seni’.
Pemusik terbaik menghabiskan waktu yang terhitung banyaknya untuk mengasah bakatnya. Kalau Anda ingin meningkatkan ketrampilan, maka Anda perlu mengembangkan kecakapan Anda, walaupun itu hanya 15 menit sehari atau 1 jam seminggu. Dalam jangka panjang, hal itu akan membuahkan hasil. “Anda bisa! Yang diperlukan adalah bakat ala kadarnya, lalu berlatihlah empat jam sehari selama empat tahun,” kata Bob Kauflin.
c.          Kecakapan tidak membuat ibadah lebih berkenan di hadapan Tuhan.
Sebagai pemimpin ibadah, kita kesal ketika kita salah memainkan intro, salah memainkan kunci, atau lupa syair lagu. Sebaliknya, kita senang sekali kalau semuanya berjalan lancar. Namun, Allah tidak mendengarkan suara musik kita atau kualitas performa kita. Ia mendengarkan suara hati kita. Tuhan tidak mencari sesuatu yang brilian; Ia mencari sesuatu yang hancur remuk. Kita tidak akan pernah membuat Tuhan terkesan akan keahlian atau ketrampilan musik kita. Apa yang membuat terkesan ialah ‘hati yang remuk dan hancur’ (Maz 51:19).
Kita memerlukan karya penebusan Sang Juruselamat untuk menyempurnakan persembahan ibadah kita kepada-Nya (1 Pet2:5).
d.        Kecakapan perlu dievaluasi orang lain.
Masukan yang saya terima dari tim sepelayanan dan rekan-rekan lainnya selama latihan atau seusai ibadah sangat berharga. Mendengar masukan yang jujur dari mereka yang saya percayai tentunya sangat bermanfaat dan mengajar saya tetap rendah hati.
Selain itu, jangan terlalu senang jika minggu demi minggu kita mendengar pujian dari orang-orang yang berkata, “saya sangat diberkati dengan pelayananmu sebagai pemimpin ibadah.” Walau tulus, pujian mereka tidak akan selalu membantu Anda bertumbuh.
e.        Kecakapan bukan suatu tujuan akhir.
Jika kita terlalu menjunjung tinggi kecakapan, hal ini akan menghasilkan buah yang buruk. Kecakapan menjadi suatu berhala. Kita berlatih  secara berlebihan dan menjadi tidak sabar ketika orang lain membuat kesalahan.
Allah ingin kita menyadari bahwa tujuan latihan bukanlah untuk menerima pujian, melainkan untuk membawa kemuliaan bagi nama-Nya.
Dalam hal apakah kecakapan menolong kita?
-    Kecakapan menolong kita berfokus kepada Allah. Bagaimana Anda dapat konsentrasi menyembah Tuhan selagi memimpin? Menjadi lebih terampil. Tujuan latihan bukan untuk melakukan sesuatu sampai kita melakukannya dengan benar. Tujuannya adalah sampai kita tidak salah-salah lagi.
-            Kecakapan menolong kita melayani jemaat.
-            Kecakapan akan melipatgandakan kesempatan melayani.
Kecakapan yang harus dikembangkan:
-            Kepemimpinan. Seorang pemimpin yang baik akan mengarahkan perhatian jemaat pada apa yang paling penting, membuat pilihan-pilihan yang membantu kita memiliki fokus.
-            Musikalitas.
a.         Aspek teknis. Seorang musisi benar-benar mempunyai kemampuan memainkan atau menyanyikan apa pun yang diperlukan dalam situasi saat itu. Tergantung instrumen musiknya, aspek ini mencakup latihan tangga nada, pergerakan chord, teknik memetik senar gitar, latihan irama ketukan yang berbeda-beda, atau latihan vokal.
b.        Aspek teori. Memahami bagaimana musik bekerja. Musisi yang tidak mengerti teori musik pasti akan bingung sendiri kalau mereka tiba-tiba lupa saat memainkan lagu.
c.         Aspek selera. Mengenal apa yang cocok. Selera mencakup dinamika, penjiwaan, pola ritme, pembagian suara instrumentasi. Berkenaan dengan selera musik, mungkin hal yang paling menantang ialah mengetahui apa yang perlu ditanggalkan atau dibuang. Memainkan lebih banyak not jarang menjadi sesuatu yang efektif.
Berapa lama waktu latihan yang ideal? Tergantung dari aktivitas Anda sehari-hari dan apa gol dan tujuan Anda. Setidaknya, Anda perlu dengan mulus memainkan lagu-lagu yang Anda perlu mainkan.
-            Komunikasi.
-            Teknologi.

Bab 5: Hidupku. Apa yang kucontohkan?
“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kasihmu dan dalam kesucianmu.” (1 Tim 4:12)
              Timotius adalah seorang pemimpin; orang-orang memperhatikan dia, mengamati dia, dan belajar dari apa yang mereka lihat. Jadi, Paulus dengan bijak menasihati Timotius: Jadilah teladan... Nasihat ini berlaku juga bagi kita.



(Bagian 1: SELESAI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar